Selasa, 05 Desember 2017

CFD Berfaedah - Menciptakan Lingkungan Sehat



Lingkungan sehat & bersih sudah jelas merupakan dambaan kita semua. 

Mewujudkan lingkungan sejatinya haruslah dimulai dari diri sendiri. Langkah paling sederhana yang bisa diterapkan untuk menciptakan lingkungan bersih adalah dengan membuang sampah pada tempatnya. Simple sih, tapi diperlukan kesadaran dari setiap orang untuk bisa melakukannya.

Padahal sudah jelas, lingkungan  bersih dan bebas dari timbunan sampah selain dapat menghindarkan kita dari berbagai kuman penyakit, juga dapat terhindar dari bencana banjir di musim hujan. Salah satu penyebab utama terjadinya banjir kan karena banyaknya sampah berserakan sehingga menghambat aliran air. Malesin.


Sampah dalam kondisi berserakan atau tertimbun kadang memang membuat mata kita gerah untuk melihatnya, ya gak sih? Makanya kita harus melakukan berbagai upaya agar sampah tersebut bisa lebih bermanfaat. Melakukan daur ulang merupakan salah satu langkah sederhana yang bisa kita lakukan. 3R Reduce, Reuse & Recycle.


Contohnya untuk ibu rumah tangga kayak gue gini, belanja ke mini market wajin  membawa kantung sendiri, biar irit plastik. Dan ketika bepergian pun sebisa mungkin membawa botol minum sendiri, supaya gak perlu membeli botol minum kemasan. Terkesan sederhana, tapi lumayan banyak manfaatnya lho! Sebenarnya sih gue pengen banget mencari pengetahuan yang lebih dalam seputar pengelolaan sampah.

Untunglah pada hari Minggu tanggal 19 November 2017, gue berkesempatan untuk hadir di event keren yang diadakan oleh Balitbang PUPR dalam rangka memperingati Hari Bakti PU ke-72. Acara yang diadakan di Car Free Day Dago tersebut sangat meriah. Selain diadakan jalan santai, senam aerobic, games dan phootoboth, terdapat juga diskusi ringan seputar banjir, sampah dan limbah plastik.

 
Ternyata lumayan banyak juga inovasi teknologi yang telah dilakukan oleh Balitbang PUPR yang belum gue ketahui. Di antaranya yang paling seru sih, gue baru tahu bahwa ternyata limbah plastik dapat dimanfaatkan menjadi bahan campuran untuk aspal. Limbah plastik (kresek) type LDPE dapat dimanfaatkan pada campuran beraspal dengan metoda kering (dry process)  untuk meningkatkan kinerja campuran beraspal.

Campuran beraspal umumnya dimodifikasi dengan polimer, akan tetapi plastik sebagai salah satu jenis polimer masih minim penggunaannya dalam konstruksi jalan. Hingga kadar tertentu, penambahan limbah plastik akan meningkatkan stabilitas dan kekuatan dari campuran beraspal sehingga akan berdampak terhadap peningkatan umur layan jalan. Dengan penggunaan teknologi yang tepat ternyata sampah kresek bisa bermanfaat juga yah!



Selain itu gue juga beruntung sekali karena berkesempatan untuk berbincang-bincang santai dengan ibu Nur Fizili Kifli dan bapak Eko Binar dari Puslitbang Sumber Daya Air. Walaupun obrolan kita singkat dan terasa santai, tapi gue merasa banyak ilmu yang bisa diperoleh dari beliau.

Ibu Nur menjelaskan panjang lebar tentang Bangunan Penyedia Air Baku Mandiri atau teknologi yang disebut ABSAH yang juga merupakan kepanjangan dari Bangunan Akuifer buatan Simpanan Air Hujan.


Bangunan ABSAH adalah hasil penelitian dari Puslitbang Sumber Daya Air yang merupakan bangunan konservasi dan sekaligus pendayagunaan air. Bangunan ini dapat menirukan aliran air yang terjadi di alam berupa : aliran air tanah alami, aliran air tanah di sekitar sumur gali/bor, ailran mata air, proses hidrologi di aliran sungai, proses penyaringan fisik di alam, proses penambahan mineral di alam, proses fisik, kimia & biologi.

Bapak Eko juga memberikan penjelasan yang sangat komprehensif seputar teknologi Ecotech Garden atau Tanaman Penyerap Limbah Rumah Tangga. 

Ecotech Garden adalah salah satu teknologi alternatif hasil penelitian Puslitbang Sumber Daya Air yang merupakan pengolahan air selokan (grey water) atau effluent tangki septic dengan menggunakan tanaman hias air.

Kalau dipikir-pikir benar juga sih. Sayang juga kalau kita menyiram tanaman dengan air biasa, Kalau ada teknologinya sih mending menggunakan air limbah rumah tangga yang sudah diolah saja. Kriteria tanaman untuk Ecotech Garden sih bebas, asalkan jangan tanaman pangan. Fungsi dari Ecotech Garden selain bisa menyerap limbah dan menghasilkan air yang bagus, juga dari segi estetika.


Gue juga sempat bertanya tentang berbagai jenis limbah domestik yang terdapat dalam rumah tangga seperti air bekas cucian. Menurut Bapak Eko, saat ini sayangnya deterjen yang dipergunakan oleh masyarakat kebanyakan bukanlah deterjen yang mengandung biodegradable.

Deterjen non-biodegradable banyak dipergunakan selain karena harganya murah, juga karena budaya masyarakat kita yang menganggap bahwa sabun dengan banyak busa berarti akan lebih bersih. Waduh, saya termasuk tuh. Padahal menurut bapak Eko, deterjen seperti itu tidak dapat terolah secara biologis. Itulah yang menyebabkan sungai-sungai kita jadi banyak busanya. Semoga sih dengan adanya edukasi yang tepat, masyarakat dapat secara perlahan beralih ke deterjen biodegradable sehingga limbah domestik dapat sedikit berkurang.


Sebenarnya masih banyak sekali materi menarik yang ingin saya dapatkan. Teman-teman yang lain berkesempatan untuk mendapatkan informasi dari nara sumber yang berbeda-beda. Ada materi tentang Program Pengembangan Kota Hijau, Teknologi Rumah Sehat RISHA dan masih banyak lagi. Tapi sayangnya karena keterbatasan waktu, kita tak sempat untuk menuntaskan diskusi menarik tersebut.

Senang sekali karena dilibatkan dalam program Balitbang PUPR untuk dapat mengkampanyekan lingkungan yang sehat dengan inovasi teknologi. Menciptakan lingkungan yang sehat merupakan tanggung jawab semua orang, bukan hanya pemerintah saja. Pemerintah melalui berbagai kebijakannya telah berupaya untuk menciptakan berbagai teknologi yang dapat kita manfaatkan. Selanjutnya merupakan tugas kita untuk menumbuhkan kesadaran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dapat segera terwujud yah!

0 komentar:

Posting Komentar